Artikel ini tidak salah judul. Kami memang jatuh cinta pada pandangan kedua.
Cerita kami berawal di medio Juli 2010. Kala itu, Miranti masih mahasiswi di Universitas Padjajaran dan Iqbal baru saja pindah kerja di salah satu distributor bahan baku. Kami dipertemukan via sosial media yang terkenal dengan game Pets- nya.
Dari chat-chat gak jelas, curhat mantan, bagi-bagi resep masak, Jason Mraz, hingga saran potongan rambut. Absurd? Jelas. Namanya juga galau baru putus. Yang penting bisa dapat teman ngobrol.
Semua diskusi dan ngobrol gak jelas itu akhirnya berubah menjadi pertemuan ketika Iqbal memutuskan membawa mobil ke Bandung untuk pertama kalinya. Berawal dari tidak sengaja melihat iklan Kampoeng Jazz yang diadakan oleh Unpad, kami pun janjian untuk nonton bareng. Berbekal tiket diskon dari teman Miranti, kami bertemu tatap muka pertama kali pada April 2011 di Ngopdul Cafe dan dilanjutkan nonton bareng Kampoeng Jazz.
Well, a lot happens that day. Nonton beberapa musisi jazz lokal dan internasional, hujan-hujanan gara-gara pawang hujannya gak jago, nonton YouTube di iPod Gen 5 yang kecilnya setengah mati, sampai dimarahin Mama dan Kakak karena pulang kemaleman.
There is something growing that day. But just losing its magic in the next following days.
Kami menempuh jalan yang berbeda. Tidak ada yang berlanjut dari pertemuan satu hari itu. Telpon, ngobrol dan chat hilang. Dan kami pun tidak pernah bertemu lagi sejak malam Kampoeng Jazz itu. Tidak ada yang menyangka bahwa acara satu hari itu justru jadi titik balik hubungan kami di masa depan.
Time goes by and our life continue. Miranti lulus dari kuliah dan bekerja di Bank Jabar Banten (bjb) penempatan Kebayoran Baru sementara Iqbal meniti karier sebagai konsultan Knowledge Management (KM). Setahun sejak pertemuan terakhir, kami sesekali chat via YM tanpa sempat bertemu. Seakan tali takdir kami memang terpisah jauh tanpa ujung.
Tapi benar kata orang tua, jodoh itu tidak kemana. Tepat pada tanggal 14 Februari 2013 Miranti online di YM setelah lama offline dan menyapa singkat. Sapaan singkat itu berlanjut dengan ngobrol yang cukup intens. Lagi-lagi tali takdir kami beriringan. Ternyata Miranti baru saja dipindahkan ke BJB cabang Saharjo beberapa hari sebelumnya. Lucunya, Iqbal juga ternyata baru pindah kantor ke daerah Saharjo, kurang dari 1 kilometer dari kantor Miranti.
Janji ketemuan pun diatur. Kala itu Miranti sedang sibuk persiapan launching BJB cabang Saharjo dan Iqbal masih masa transisi di kantor baru. Disepakati kami akan bertemu di Seven Eleven Saharjo jam 19.30 WIB. Iqbal sampai lebih dahulu dan menunggu di bagian luar. Tidak lama, Miranti menelpon kalau dia sudah ada di dalam Seven Eleven. Heran karena tidak merasa melihat ada yang masuk lewat pintu, Iqbal pun menyusul ke dalam.
And he saw a girl that later become the love of his life.
Pertemuan pertama itu cukup awkward. Iqbal masih kaget dengan perubahan Miranti sedangkan Miranti malu-malu dan fokus pada gadget-nya. Tapi ketemuan canggung itu hanyalah awal dari semuanya. Ada rasa yang muncul dari pertemuan kedua itu. Rasa itulah yang kemudian berkembang menjadi pertemuan ketiga, keempat dan entah keberapa lagi. Telpon, chat, ngobrol yang dulu hilang perlahan meningkat intensitasnya. Bahan diskusi pun berubah dari sekedar curhat menjadi lebih intim lagi.
Cerita selanjutnya mudah ditebak, Kami saling jatuh cinta dan memutuskan untuk serius berkomitmen sebagai pasangan. Tanggal 31 Maret 2013 adalah titik awal kami dan 29 November 2014 adalah momen dimana kami akan sah menikah (Insyaallah).
Tapi terlepas dari perjalanan sebagai pasangan, pertemuan di Seven Eleven adalah titik balik dari hubungan kami. Alasannya simpel saja. Sampai saat pertemuan kedua itu, kami tidak pernah berpikir bahwa ternyata kami adalah pasangan hidup bagi satu sama lainnya.
Sebelum petemuan kedua itu, Miranti masih menjalin hubungan dengan seseorang dan mereka baik-baik saja. Di sisi lain, walaupun Iqbal sedang single, tapi dia sedang senang-senangnya bekerja dan memilih untuk melupakan masalah pasangan. Kami sebenarnya dalam kondisi yang paling tidak memungkinkan untuk bisa bersama. Tapi takdir dan jodoh memang ada yang mengatur. Manusia hanya bisa menjalaninya
Pertemuan kedua itulah awal mula semuanya. Pertemuan singkat yang menghadirkan cinta pada pandangan kedua. Semoga cinta pada pandangan kedua ini tetap ada hingga kami dipersatukan kembali dalam surga-Nya.