Rabu, 29 Oktober 2014

Tentang Miranti



Miranti, nama yang cukup singkat karena hanya ada 1 kata disitu, sebenarnya masih ada nama setelah itu “Miranti Achmarianti” tapi entah kenapa pas daftar untuk pembuatan akte lahir yang kecatet Cuma 1 kata, haha lebih simple jadi gampang di inget. Anak bungsu dari 3 bersaudara, kaka pertama “ Firmansyah” udah duluan ke surga sejak dilahirkan. Kakak kedua “ Murni Diana”, kata orang sih kita berdua tuh gak mirip banget udah kaya langit sama bumi. Yang satu mancung yang satu pesek, yang satu putih yang satu lagi eksotis (hahaha) yang satu girly yang satu tomboy. Yang satu kaya orang Arab yang satu kaya Chineese. Well disyukuri aja ya apa yang kita punya yang penting kita berdua tetep anak mama yang paling cantik, hehe

Ngomongin tentang pendidikan selama 3 tahun menjalani pendidikan di SMP 85 Pondok Labu Jakarta, jarak dari Cinere ke sekolah gak begitu jauh sih tapi macet nya itu luar biasa perjalanan sedeket itu bisa ngabisin waku 1.5 jam ditambah mesti jalan kaki dari rumah ke luar komplek yang dalem banget. SMA beralih pulang lagi ke tempat asal, 1 tahun menjalani masa SMA di SMA 31, banyak banget pengalaman dengan teman dan masa bandel-bandel nya di sekolah. Tahun kedua move ke Bandung. Di SMA 8 Bandung ini aku dapetin sahabat – sahabat sejati. Sampai saat ini kita masih tetep saling kontak walaupun jarak memisahkan kita. Belek setelah menikah ikut dengan suaminya ke Aceh, kota jauh diujung Indonesia yang aku sendiri belum pernah kesana, Cayo masih tetap di kota Bandung tercinta dan masih mempertahankan poni kudanya dari SMA sampai sekarang. Dan…aku terdampar di Jakarta, setelah menjalani kuliah 3 tahun di PAAP Unpad aku hijrah ke Jakarta, kota asal tempat aku kecil dibesarkan. Bekerja di bank bjb sejak akhir tahun 2011 sampai dengan sekarang merupakan titik awal yang besar untuk karirku.

Tahun 2014 ini genap 25 tahun usiaku, di tahun kemarin tidak pernah terbayangkan akan menikah di usia ini. Tahun ini adalah masa yang amat sangat panjang dari mulai harus menyelesaikan kuliah S1, wisuda, mempersiapkan pernikahan dan yang paling penting adalah mempersiapkan diri untuk menjadi istri dari Iqbal Fajar. Life starts here….

Tentang Iqbal


Lahir 28 tahun yang lalu pada 14 Juni 1986 dengan nama lengkap Muhamad Iqbal Fajar. Iqbal adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Sejak kecil terkenal karena suka lari-larian tapi kalau jatuh langsung nangis sesengukan. SMP adalah masa dimana Iqbal kecil meninggalkan rumah untuk sekolah di asrama. Hampir tidak kuat di asrama karena selalu teringat Mama di minggu pertama, kini Iqbal malah harus disindir Mama karena tidak pernah pulang ke rumahnya. 

Masa SMA dihabiskan di daerah Cibadak, Sukabumi. Lagi-lagi di sekolah asrama. Cowok semua pula. Untungnya, Al Bayan Boarding School, bukan sekolah biasa. Selain karena lokasinya yang unik (di puncak bukit), Al Bayan membentuk Iqbal menjadi pribadi yang jauh lebih dewasa



UAN adalah saat yang menyeramkan. Tahun itu adalah tahun kedua pemberlakuan nilai batas kelulusan. Artinya, ada kemungkinan 3 tahun sia-sia. Untungnya, Iqbal diterima di Institut Pertanian Bogor jurusan Teknologi Hasil Perikanan melalui SPMB. Bangga? Jelas lah. Katanya kalau masuk IPB lewat SPMB itu manusia luar biasa karena jatahnya yang jauh lebih sedikit dari Universitas lainnya. Sayang, Iqbal ternyata lulus di nomor urutan sebelum buncit. Artinya, nilai kelulusan SPMB sudah mendekati ambang batas sebelum gagal. No urut yang entah bagaimana berbanding lurus dengan nilai kasta IPK di tahun-tahun berikutnya.



Gelar Sarjana Perikanan resmi didapatkan pada tahun 2008. Berbekal rekomendasi Dosen, Iqbal diterima sebagai Consultant and Product Development di Surveyor Indonesia. Project-project awalnya berkutat di dunia Perikanan, Ketertelusuran dan ISO system. Kebiasaan kerja malam pun mulai terbentuk. Selain itu, kenyamanan sebagai pekerja mulai berdampak pada bertambahnya lipatan dan nomor celana



Tahun 2010, Iqbal beralih ke jalur Sales dan Marketing di Megasetia untuk produk Danisco Animal Nutrition. Kesempatan bekerja yang akhirnya memberikan dasar bagi karier professionalnya. Sekaligus menanamkan satu hal, Singapura adalah tempat bekerja, bukan tempat jalan-jalan.


Pada akhirnya passion pada pembelajaran yang kembali membawanya pada dunia Consultant. Bersama KMPlus, Iqbal melanjutkan karier sebagai Professional Consultant di bidang Knowledge Management. Lihat perbedaan ukuran perut dan pipinya :D


Di KMPLus pula akhirnya Iqbal menyelesaikan kuliah Master-nya yang dimulai sejak masih di Surveyor Indonesia.



Kini, Iqbal bekerja di ITTC - Knoco Indonesia sebagai Executice Director dan Senior Consultant.





Waktu dan Lokasi Acara

Akad Nikah

Sabtu, 29 November 2014
Pukul 08.00 WIB
Gedung Prof. Dr. Satrio Seskoad
Jl. Gatot Subroto No. 96, Bandung 

Resepsi

Sabtu, 29 November 2014
Pukul 11.00 - 14.00 WIB
Gedung Prof. Dr. Satrio Seskoad
Jl. Gatot Subroto No. 96, Bandung

Denah Lokasi 


Dari arah Jakarta:

Keluar gerbang tol Buah Batu, belok kiri dan lurus mengikuti Jalan Buah Batu. Pada lampu merah kedua dari keluar tol, belok kanan dan lurus mengikuti Jalan Pelajar Pejuang. Pada lampu merah ketiga dari belokan, belok kanan dan lurus. Lokasi acara ada di sebelah kanan, 20 meter dari belokan lampu merah.



Cinta pada Pandangan Kedua



Artikel ini tidak salah judul. Kami memang jatuh cinta pada pandangan kedua. 

Cerita kami berawal di medio Juli 2010. Kala itu, Miranti masih mahasiswi di Universitas Padjajaran dan Iqbal baru saja pindah kerja di salah satu distributor bahan baku. Kami dipertemukan via sosial media yang terkenal dengan game Pets- nya. 

Dari chat-chat gak jelas, curhat mantan, bagi-bagi resep masak, Jason Mraz, hingga saran potongan rambut. Absurd? Jelas. Namanya juga galau baru putus. Yang penting bisa dapat teman ngobrol.

Semua diskusi dan ngobrol gak jelas itu akhirnya berubah menjadi pertemuan ketika Iqbal memutuskan membawa mobil ke Bandung untuk pertama kalinya. Berawal dari tidak sengaja melihat iklan Kampoeng Jazz yang diadakan oleh Unpad, kami pun janjian untuk nonton bareng. Berbekal tiket diskon dari teman Miranti, kami bertemu tatap muka pertama kali pada April 2011 di Ngopdul Cafe dan dilanjutkan nonton bareng Kampoeng Jazz.



Well, a lot happens that day. Nonton beberapa musisi jazz lokal dan internasional, hujan-hujanan gara-gara pawang hujannya gak jago, nonton YouTube di iPod Gen 5 yang kecilnya setengah mati, sampai dimarahin Mama dan Kakak karena pulang kemaleman.



There is something growing that day. But just losing its magic in the next following days.

Kami menempuh jalan yang berbeda. Tidak ada yang berlanjut dari pertemuan satu hari itu. Telpon, ngobrol dan chat hilang. Dan kami pun tidak pernah bertemu lagi sejak malam Kampoeng Jazz itu. Tidak ada yang menyangka bahwa acara satu hari itu justru jadi titik balik hubungan kami di masa depan.

Time goes by and our life continue. Miranti lulus dari kuliah dan bekerja di Bank Jabar Banten (bjb) penempatan Kebayoran Baru sementara Iqbal meniti karier sebagai konsultan Knowledge Management (KM). Setahun sejak pertemuan terakhir, kami sesekali chat via YM tanpa sempat bertemu. Seakan tali takdir kami memang terpisah jauh tanpa ujung.

Tapi benar kata orang tua, jodoh itu tidak kemana. Tepat pada tanggal 14 Februari 2013 Miranti online di YM setelah lama offline dan menyapa singkat. Sapaan singkat itu berlanjut dengan ngobrol yang cukup intens. Lagi-lagi tali takdir kami beriringan. Ternyata Miranti baru saja dipindahkan ke BJB cabang Saharjo beberapa hari sebelumnya. Lucunya, Iqbal juga ternyata baru pindah kantor ke daerah Saharjo, kurang dari 1 kilometer dari kantor Miranti.

Janji ketemuan pun diatur. Kala itu Miranti sedang sibuk persiapan launching BJB cabang Saharjo dan Iqbal masih masa transisi di kantor baru. Disepakati kami akan bertemu di Seven Eleven Saharjo jam 19.30 WIB. Iqbal sampai lebih dahulu dan menunggu di bagian luar. Tidak lama, Miranti menelpon kalau dia sudah ada di dalam Seven Eleven. Heran karena tidak merasa melihat ada yang masuk lewat pintu, Iqbal pun menyusul ke dalam.



And he saw a girl that later become the love of his life.

Pertemuan pertama itu cukup awkward. Iqbal masih kaget dengan perubahan Miranti sedangkan Miranti malu-malu dan fokus pada gadget-nya. Tapi ketemuan canggung itu hanyalah awal dari semuanya. Ada rasa yang muncul dari pertemuan kedua itu. Rasa itulah yang kemudian berkembang menjadi pertemuan ketiga, keempat dan entah keberapa lagi. Telpon, chat, ngobrol yang dulu hilang perlahan meningkat intensitasnya. Bahan diskusi pun berubah dari sekedar curhat menjadi lebih intim lagi. 

Cerita selanjutnya mudah ditebak, Kami saling jatuh cinta dan memutuskan untuk serius berkomitmen sebagai pasangan. Tanggal 31 Maret 2013 adalah titik awal kami dan 29 November 2014 adalah momen dimana kami akan sah menikah (Insyaallah).


Tapi terlepas dari perjalanan sebagai pasangan, pertemuan di Seven Eleven adalah titik balik dari hubungan kami. Alasannya simpel saja. Sampai saat pertemuan kedua itu, kami tidak pernah berpikir bahwa ternyata kami adalah pasangan hidup bagi satu sama lainnya. 

Sebelum petemuan kedua itu, Miranti masih menjalin hubungan dengan seseorang dan mereka baik-baik saja. Di sisi lain, walaupun Iqbal sedang single, tapi dia sedang senang-senangnya bekerja dan memilih untuk melupakan masalah pasangan. Kami sebenarnya dalam kondisi yang paling tidak memungkinkan untuk bisa bersama. Tapi takdir dan jodoh memang ada yang mengatur. Manusia hanya bisa menjalaninya 

Pertemuan kedua itulah awal mula semuanya. Pertemuan singkat yang menghadirkan cinta pada pandangan kedua. Semoga cinta pada pandangan kedua ini tetap ada hingga kami dipersatukan kembali dalam surga-Nya.
  

Dalam Gambar: Pre Wedding

Pre wedding adalah hal baru bagi kami (jelaslah, belum ada pengalaman menikah). Jadi sesi pre wedding adalah pengalaman yang menarik, seru dan melelahkan. Melelahkan karena sesi ini mengharuskan kami berpindah-pindah tempat keliling Bandung demi dapat gambar yang outstanding di hari Minggu, saat dimana kemacetan Jakarta berpindah ke Bandung.

So, this is our best photo (yet). Thanks to Mama Eva yang setia menemani (sekaligus jadi stylish dadakan), Kang Ajeng dan kru, serta Papyrus Photo buat sesi yang menyenangkan ini. FYI, there is a lot of story behind this photo session. Kami akan bercerita di post lainnya.

Silahkan menikmati narsisme kami dalam ukuran yang luar biasa ini :) Jangan lupa komentarnya ya

Cheers,

Miranti dan Iqbal














Pesan Anda

Anda adalah orang-orang terdekat kami, jangan ragu sampaikan pesan dan komentar Anda.

Nama Email * Pesan *